Selamat Jalan Ainun Habibie

26 Mei

Saya merasa ikut sedih atas meninggalnya Ibu Ainun Habibie. Kesedihan kedua atas setelah meninggalnya Gus Dur. Tapi tidak ada sedih atas meninggalnya Pak Harto. Memang saya secara pribadi belum pernah jumpa dengan mereka. Alhamdulillah pernah bertemu mereka meskipun hanya dalam mimpi tidur. Mimpi pertama terjadi ketika saya tertidur di mushola dekat rumah, tertidur siang sehabis sholat. Dalam mimpi, saya membonceng BJ Habibie memakai sepeda motor laki-laki ke arah rumah Pak Harto. Mau dekat rumahnya ada sedikit tanjakan, motor tertatih-tatih melewati tanjakan. Begitu sampai depan rumah, banyak orang berdemonstrasi di jalan raya depan dan samping rumah. Tak lama Pak Harto keluar rumah sambil membawa senapan serbu dan menembaki demonstran. Kemudian saya terbangun dan memikirkan mimpi itu. Saya pulang dan menceritakannya kepada Ibu. Beberapa minggu kemudian memang demosntrasi mahasiswa semakin menghebat. Saya sendiri pun ikut demo-demo di dalam kampus yang diselenggarakan senior teknik, saat itu baru tahun pertama kuliah. Waktu itu demonstrasi tidak bisa keluar dari kampus, memang demikian aturan hukumnya. Setiap nyampe gerbang kampus sudah, gerbang sudah ditutupm oleh satpam dan di balik gerbang polisi dalmas sudah bersiaga dengan tameng dan pentungan rotan. Teringat akan nasihat ibu dan paman bahwa kalau ikut demontrasi harus selalu hati-hati karena jika cidera siapa yang ngobatin, biayai SPP aja megap-megap. Jadinya setiap ikut demo anti Soeharto saya tidak berani paling depan. Khawatir terkena pentungan atau lemparan batu atau tembakan gas air mata. Semakin hebatnya demonstrasi salah satu pemicunya adalah kematian 4 mahasisawa Trisakti akibat tembakan tidak dikenal. Akhirnya Soeharto mundur setelah pertengahan Mei 1998 dan menaikkan BJ Habibie sebagai presiden.
Mimpi berikutnya tidak begitu ingat detailnya, setelah Habibie jadi presiden, dia datang ke belakang pekarangan rumah. Lalu bermimpi bertemu Ibu Hasri Ainun Habibie di suatu tempat keramaian seperti sebuah pusat perbelanjaan. Terus mimpi mendengar suara Megawati berpidato lewat radio, saat itu lagi ramai pemilihan presiden pertama antara Amien Rais, Megawati, dan Gus Dur. Amien Rais kurang sekali dukungan di MPR, tinggal yang bertarung Gus Dur dan Megawati. Saat itu populer gerakan asal bukan Megawati sehingga menaikkan Gus Dur sebagai presiden. Kemudian mimpi lagi bertemu Gus Dur, beliau berkunjung ke kampus teknik Unibraw. Cuma itu saya bermimpi dengan tokoh-tokoh besar. Sampai sekarang pun saya tidak pernah lagi bermimpi dengan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: