Tugu Obor di Tanjung Kalsel

23 Apr
image

Tugu Obor

Setiap melalui Tanjung, ibukota kabupaten Tabalong, perhatian pasti terbetot ke sebuah menara yang ada nyala api di puncaknya. Populer disebut dengan Tugu Obor, terletak di pusat kota. Beberapa kali aku melewati Tugu Obor, baik dari Banjar, dari Grogot ataupun dari Ampah (arah Palangka). Nyala api akan terlihat jelas jika menyaksikannya waktu malam hari. Sumber api katanya dari gas yang ditarik dari pengeboran minyak bumi Pertamina Tabalong. Seperti nyala api dari cerobong kilang minyak di Balikpapan. Menurutku desain tugu tersebut untuk menegaskan kepada warga bahwa kabupaten Tabalong memiliki kekayaan alam minyak bumi dan gas alam (migas). Notabene memang sudah dieksploitasi sejak masa Kolonial Belanda di Taanjung. Tugu Obor sebenarnya memiliki nama resmi Monumen Tanjung Puri sebagaimana tertera di bagian bawah menara dengan hiasan 3 semboyan yakni Kawa Baucap, Kawa Manggawi, Kawa Manyandang yang artinya mampu berkata, mampu bekerja, dan mampu bertanggung jawab. Tugu obor dibangun pada masa pemerintahan bupati Dandung Suchrowardi yang menjabat bupati Tabalong selama sepuluh tahun (1984 – 1994). Monumen didesain oleh Yusni Antemas yang merupakan seorang sastrawan, sejarawan, dan wartawan. Beliau dikenal dengan nama pena Anggraini.

image

Tugu Obor

Bayar Pajak di Samsat Lagi

23 Apr

Untuk edisi perdana aku membayar pajak sepeda motor di Samsat kabupaten Paser. Sebelumnya sudah bersiap dengan fotokopi KTP dan BPKP dua lembar juga fotokopi STNK. Karena masih kagok, merasa asing, aku tidak langsung masuk. Bertanya kepada seorang pria yang sepertinya tengah menunggu cek fisik sepeda motor. Dia berkata bahwa ada petugas di pintu masuk depan yang akan melayani. Aku pun bergegas ke sana dan betul, ada seorang petugas di depan pintu masuk ruangan, tampak sebagai seorang resepsionis. Dia menanyakan keperluanku. Aku menjawab untuk membayar pajak sepeda motor. Dia mengeluarkan sebuah map putih dan memeriksa salinan dokumenku. Padahal sudah kusiapkan map kertas dengan warna yang sama waktu dulu membayar pajak di Samsat Pangkalan Bun. Lain tata caranya ternyata. Dinyatakan dokumenku sudah OK, aku disuruh masuk menuju loket nomer 4 dan diberi nomer antrian yg diprint. Cetakan nomer antrian mirip seperti bank atau di parkiran Hypermart. Hebat, aku sangat salut atas pelayanan Samsat Grogot dimulai dari pintu masuk. Begitu masuk, semua bangku tempat duduk antrian terbuat dari pelat logam krom, lagi-lagi seperti di bank. Aku amat sekeliling, ruangan antrian pelayanan Samsat dilengkapi dengan 2 AC split di dinding, posisi aktif. Ada juga 2 unit AC tower, 1 sudah terinstal 1 lagi masih terbungkus plastik belum terinstal. Aku acungi jempol lagi karena tidak lagi pakai kipas angin. Antriannya juga tidak lama, sayangnya mengkalibrasi. Kerennya lagi tertera di dinding standart pelayanan samsat. Untuk membayar pajak tahunan standartnya adalah 15 menit. Salut, pantas mendapat acungan dua jempol untuk Samasat Grogot. Terasa bahwa aparat pemerintahan memang berniat melayani warga negara yang taat membayar pajak. Mudah-mudahan bisa ditiru oleh samsat di kabupaten yang lain. Entar kalau ada pengalaman samsat kabupaten lainnya yang lebih bagus, akan aku ceritakan. Bagaimana dengan pengalaman anda.

Menu Rusa Palangka

19 Apr
image

Tongseng Rusa

Dalam perjalanan balik Paser dari Kotawaringin Barat, aku mampir Palangka Raya di malam hari. Demi mencari makan malam, aku berputar-putar di dekat bundaran besar Jl. Cilik Riwut – Jl. Imam Bonjol. Tampak sentra kuliner dengan berbagai macam warteg dan PKL. Aku menghampiri sebuah warteg yang cukup unik. Selain ada menu biasa seperti mi kuah/goreng, lalapan, dan nasi goreng, ada juga tertera sate rusa, tongseng rusa, dan nasi goreng rusa. Ini cita rasa kuliner unik karena baru pertama ini menemui warteg yang menyajikan menu dengan unsur daging rusa. Notabene tidak asing bagiku di rumah Pangkalan Bun, beberapa kali orangtua memasak daging rusa, dibeli di pasar Baru. Sebenarnya ingin memesan sate rusa dan tongseng rusa. Akhirnya supaya cepat, kupesan tongseng rusa. Bumbunya dan penyajiannya sama persis dengan tongseng kambing. Citarasanya khas daging rusa yang tekstur dagingnya sangat lembut tapi kenyal. Kuduga menu rusa pasti menu istimewa di warteg ini. Ternyata betul, harga menu rusa paling mahal, lima puluh ribu seporsi. Bandingkan dengan mie goreng dengan telor dadar seporsi tiga belas ribu dan nasi goreng dengan paha ayam goreng seporsi dua puluh lima ribu rupiah. Tapi memang menu rusa ini adalah istimewa bagiku. Bagaimana dengan pendapat anda. alam perjalanan balik Paser dari Kotawaringin Barat, aku mampir Palangka Raya di malam hari. Demi mencari makan malam, aku berputar-putar di dekat bundaran besar Jl. Cilik Riwut – Jl. Imam Bonjol. Tampak sentra kuliner dengan berbagai macam warteg dan PKL. Aku menghampiri sebuah warteg yang cukup unik. Selain ada menu biasa seperti mi kuah/goreng, lalapan, dan nasi goreng, ada juga tertera sate rusa, tongseng rusa, dan nasi goreng rusa. Ini cita rasa kuliner unik karena baru pertama ini menemui warteg yang menyajikan menu dengan unsur daging rusa. Notabene tidak asing bagiku di rumah Pangkalan Bun, beberapa kali orangtua memasak daging rusa, dibeli di pasar Baru. Sebenarnya ingin memesan sate rusa dan tongseng rusa. Akhirnya supaya cepat, kupesan tongseng rusa. Bumbunya dan penyajiannya sama persis dengan tongseng kambing. Citarasanya khas daging rusa yang tekstur dagingnya sangat lembut tapi kenyal. Kuduga menu rusa pasti menu istimewa di warteg ini. Ternyata betul, harga menu rusa paling mahal, lima puluh ribu seporsi. Bandingkan dengan mie goreng dengan telor dadar seporsi tiga belas ribu dan nasi goreng dengan paha ayam goreng seporsi dua puluh lima ribu rupiah. Tapi memang menu rusa ini adalah istimewa bagiku. Bagaimana dengan pendapat anda.

image

Nasi tongseng rusa.

Bulikan

16 Apr
image

Bundaran Orangutan

Sebuah pemecahan rekor pribadi, berkendara sejauh hampir 1200 kilometer, serasa menyusuri jalan Daendels dari Anyer ke Penarukan. Sebenarnya secara Google Map jarak lurus Tanah Grogot ke Pangkalan Bun adalah 800 km. Jarak tempuh menjadi lebih panjang karena jalan berliku dan menempuh rute Banjarmasin. Berangkat dari Tanah Grogot pada pagi hari, mobil diisi penuh full tank (45 liter). Infrastruktur jalan dari Grogot hingga perbatasan Tanjung terasa berat, naik turun bukit yang cukup terjal dengan kondisi aspal jalan yang buruk. Tiba di perbatasan Kaltim-Kalsel tepat tengah hari untuk rehat siang. Perjalanan dilanjutkan ke Banjarmasin, sampai jam sembilan malam. Menginap satu malam dan mobil diisi bensin premium penuh lagi hingga full tank menghabiskan 24 liter. Setelah sarapan pagi, perjalanan dilanjutkan menuju Sampit. Jalan raya antara Banjarmasin ke Palangka Raya terasa lebar dan lalu lintas lengang sehingga bisa digeber 120 km/jam. Melintasi jalan ring luar kota  Palangka Raya tepat tengah hari dan rehat siang. Jalan raya Palangka ke Sampit masih mulus namun jalan sudah mulai mengecil dan lalu lintas yang lebih padat. Tiba di Sampit menjelang Maghrib, diputuskan istirahat lagi semalam demi keselamatan berkendara. Menginap di penginapan dekat alun-alun, sudah sekali pernah menginap di hotel tersebut. Pagi hari perjalanan dilanjutkan lagi, sebelumnya kendaraan sudah diisi full tank habis 22 liter bensin premium. Toyota Avanza 1.3 masih mencapai 14 kilometer per liter, lumayan irit untuk kelas kendaraan Low MPV dengan bahan bakar bensin premium. Namun disarankan anda menggunakan bensin pertamax yang memiliki nilai oktan lebih tinggi, akan lebih efisien lagi konsumsi bahan bakar meski harus merogoh kocek lebih dalam. Seliter premium harganya 7300 sedangkan seliter pertamax berharga 10600. Sangat terasa selisih harganya di dompet.
By the way, perjalanan dari Sampit ke Pangkalan Bun cukup lancar namun kondisi jalan raya lebih jelek daripada Banjar ke Sampit. Pada umumnya erosi dan amblas di bagian pinggir. Masih mendingin dibandingkan kondisi jalan di Kaltim perbatasan Kalsel. Tiba di Pangkalan Bun sekitar jam 11 waktu setempat, belum mencapai tepat tengah hari. Alhamdulilah bisa berkumpul lagi dengan keluarga Paangkalan Bun meskipun hanya seminggu. Semoga membawa barokah.

Morista dan MC-Biduan Sepuh

15 Apr

Baru pertama melihat penampilan Morista, grup band dari Sei Rangit di hari Minggu. Ditanggap waktu perkawinan saudara sepupu di Pangkalan Bun. Ada seorang MC band unik, cukup kawakan, perkiraanku lebih dari 55 tahun usianya. Mengenakan blangkon dan pakaian khas artis tradiosional Jawa. Pembawaannya gayeng dan humoris sekaligus menyanyikan sejumlah tembang Jawa sebagai pembukaan. Kualitas suaranya masih bagus, memang “battle proven”. Aku pribadi baru sekali ini menyaksikan MC Band yang benar-benar sepuh. Tidak kagok dengan kehadiran 3 artis grup Palapa yang diundang dari Jawa Timur yang masih muda-muda dan cantik-cantik.
image

%d blogger menyukai ini: