Tag Archives: rudal anti-pesawat

PM Inggris Tawarkan Starstreak Rudal Anti-pesawat, Indonesia Berminat

16 Apr

Dalam kunjungan kerja PM David Cameron ke Indonesia, Kerajaan Inggris menawarkan persenjataan anti-pesawat Starstreak. PM Inggris berkunjung ke Indonesia selama dua hari pada pekan kemarin. Menhan Indonesia mengungkapkan ke media bahwa Indonesia berminat membeli meski dalam jumlah sedikit. Mungkin penawaran PM Inggris tersebut sebuah jawaban atas permintaan militer Indonesia. Soalnya isu rudal Starstreak pernah dilontarkan panglima Kodam Bukit Barisan pada Agustus 2010. Jika rencana Kemenhan terealisasi, tentu akan menambah perbendaharaan rudal anti-pesawat jarak pendek yang dimiliki militer Indonesia.

Secara pasti rudal panggul anti-pesawat jarak pendek yang telah menjadi inventaris adalah RBS-70, Grom, dan QW 2/3. Grom buatan Polandia dioperasikan Kostrad dan Qian Wei seri 2 dan 3 buatan RRC dioperasikan Paskhas AU, keduanya bersistem fire and forget. RBS-70 buatan Swedia bersistem pemandu laser dengan kombinasi proximity fuse. Sistem pemandu rudal Starstreak buatan Inggris (Thales) juga menggunakan laser bernergi rendah. Sistem pemandu inframerah maupun radar lebih mudah diacak dengan flare dan chaff. Sistem pemandu laser hingga saat ini sulit untuk diacak sehingga kill probabilitynya lebih tinggi. Terlebih kecepatan tembak Starstreak paling tinggi, hingga 3,5 Mach. Menjadikannya rudal Manpads tercepat saat ini sehingga sasaran yang ditembak hampir tidak memiliki kesempatan untuk menghindar atau memberikan reaksi. Perlu dikembangkan sensor laser yang lebih canggih untuk mendeteksi ancaman rudal jenis ini. Satu-satunya hambatan adalah kondisi cuaca dan pandangan misalnya asap.

Rudal Starstreak mulai dikembangkan pada November 1986 oleh pabrikan Shorts (berganti nama Thales). Sistem ini resmi berdinas di jajaran militer Inggris pada September 1997, mulai menggantikan peran rudal Javelin dan Starburst. Rudal Starburst dioperasikan Inggris, Kanada, Malaysia, dan Kuwait. Pada tahun 2007, Thales menyempurnakan sistem ini dengan merilis Starstreak II. Rudal Starstreak 2 memiliki kinerja lebih tinggi dari Starstreak I. Misil lebih ringan berbobot 14 kg, jarak jangkau hingga 7 km dengan ketinggian hingga 5 km, usia pakai misil hingga 15 tahun.

Sistem rudal Starstreak terdiri dari peluncur dan misil. Peluncur menjadi satu dengan pemandu laser. Misil memiliki dua tinggat roket pendorong propelan padat. Roket tingkat pertama melontarkan misil keluar dari laras peluncur hingga jarak aman dari operator beberapa ratus meter. Kemudian roket booster akan mendorong misil hingga kecepatan 3,5 Mach. Jika bahan bakar roket booster habis, misil melepaskan 3 sub-munisi meluncur secara terpisah menuju target dengan daya kinetik 9G. Selama peluncuran, operator memandu terus misil hingga sub-munisi mengenai target. Masing-masing sub-munisi memiliki 2 laser pemandu yang akan menyesuaikan lintasan luncur sesuai panduan laser dari sistem pemandu yang dioperasikan prajurit operator. Kepala sub-amunisi diperkeras dengan tungsten untuk memperkuat efek kinetik. Jika sub-munisi menghantam sasaran, delay-fuse akan aktif menunda peledakan hulu ledak. Memberi waktu bagi kepala sub-munisi menembus atau merobek masuk ke dalam sasaran sebelum diledakkan. Dengan keandalan semacam itu, rudal Starstreak bisa berfungsi ganda sebagai senjata penghancur kendaraan lapis baja.

Rudal Starstreak dikonfigurasi dalam bentuk peluncur portabel panggul, LML (Lightweight Multiple launcher) yang bisa dipasang diberbagai platform mobile, SP HVM (Self Propelled High Velocity Missile) dengan penggerak kendaraan lapis baja Alvis Stormer, dan ATASK (Air to Air Starstreak) yang dipasang di helikopter serang Apache. Hingga kini negara operator rudal Starstreak selain Inggris adalah Afrika Selatan. Rudal Starstreak secara teknis memang sangat unggul namun belum terbukti dalam palagan (battle proven). Minat pembelian rudal Starstreak hendaknya direncanakan dengan matang berkenaan dengan pembelian sistem senjata anti-pesawat jarak pendek lainnya yang telah dahulu direncanakan seperti Oerlikon twincanon Swiss, Chiron Korsel, bahkan TD2000 RRC.

Rudal Pertahanan Udara Indonesia

26 Jan

Di awal Januari tahun ini  mengemuka hasrat dari pimpinan pertahanan udara TNI-AU untuk membeli rudal pertahanan udara jarak menengah LY-80 buatan RRC. Sistem rudal pertahanan jarak menengah menjadi salah satu shopping list TNI-AU dalam skema MEF (Minimum Essensial Forces). Militer Indonesia tidak lagi memiliki rudal pertahanan udara yang andal selain era Bung Karno yang pernah membeli S-75 Dvina (SA-2 Guideline) buatan Uni Soviet pada dekade 1960-an. Rudal S-75 bisa menghajar sasaran udara sejauh 45 km setinggi 20 km dengan kecepatan 3,5 Mach. Pesawat mata-mata U-2 Lady Dragon AS yang melintas di atas Jawa Barat pernah dikuncinya namun tidak sampai ditembak. Rudal SA-2 kemudian tidak aktif seiring putusnya hubungan dengan blok komunis (Uni Soviet dan RRC). Di era Orde Baru, misil pertahanan udara sepenuhnya berupa SHORAD (Short Range Air Defense) dan MANPADS (Man Portable Air Defense System) berupa rudal maupun kanon anti-pesawat jarak pendek. Demikian juga kapal perang Indonesia (frigat dan korvet) hanya memiliki rudal pertahanan udara jarak pendek seperti Sea Cat, Mistral Simbad, dan Strella II.

Rudal Pertahanan Udara HQ-16

Perkembangan yang kontras terjadi negara-negara tetangga yang semakin lengkap konfigurasi pertahanan udara berbasis darat maupun kapal perang dengan kombinasi rudal jarak menengah/jauh. Singapura pada awal dekade 1980-an mengakuisi MIM-23B Hawk, sistem pertahanan udara jarak menengah buatan Raytheon Corp AS. Rudal MIM-23B Hawk mampu menyasar target sejauh 40 km hingga ketinggian 14 km. Demikian juga frigat angkatan laut Singapura dipersenjatai rudal pertahanan udara jarak menengah Aster 30 dan Aster 60. Australia mempersenjatai frigat kelas Adelaide dengan RIM-66B Standart-1M (platform Tartar). Rudal tersebut bisa menyasar target sejauh lebih dari 74 km hingga ketinggian lebih dari 24 km. Bahkan sekarang sistem rudal pertahanan udara pada frigat kelas Anzac maupun Adelaide sekarang telah diganti ke RIM-162 ESSM yang kemampuannya lebih baik lagi dengan kecepatan Baca lebih lanjut

Chiron, Rudal Panggul Anti-Pesawat Paskhas AU Terkini?

19 Okt
Rudal Chiron AD Korea Selatan

Setelah peringatan HUT Paskhas TNI-AU beberapa hari yang lalu, semakin santer kabar rencana akuisi persenjataan baru bagi satuan Paskhas yakni meriam penangkis serangan udara Oerlikon 35 mm dan rudal panggul (MANPADS atau SHORAD) Chiron. Meriam PSU Oerlikon twin canon sudah beberapa tahun didengungkan bahkan Paskhas ingin mendapatkannya mulai dari tahun 2009. Tidak cuma Paskhas, korps marinir AL juga hendak memperolehnya dari bulan Mei tahun ini untuk memperkuat batere pertahanan udara termasuk pengamanan udara kompleks istana negara. Rencana pembelian Chiron merupakan perkembangan baru dari kedekatan kerjasama pertahanan dengan Korea Selatan. AB Indonesia tercatat memiliki sejumlah arsenal rudal panggul dari beberapa pemasok. Paskhas AU sendiri sebelumnya sangat intensif memperkuat diri dengan rudal panggul buatan RRC Qian Wei 3 bahkan dilengkapi dengan simulator. Satuan AD seperti Kostrad dilengkapi dengan rudal SHORAD buatan Polandia PZR Grom dan rudal buatan Swedia RBS-70. Sementara beberapa kapal AL dipersenjatai rudal buatan Perancis MBDA Mistral versi Simbad dan Tetral.

Misil Chiron

Rudal Chiron termasuk salah satu rudal generasi terbaru di kelasnya yang dikembangkan lembaga riset Korsel selama lebih dari delapan tahun, diproduksi oleh LIG Next1. Pengembangannya berdekatan dengan proyek rudal PZR Grom dari Polandia. Bedanya Chiron memiliki kerjasama resmi dengan Rusia sedangkan Grom diduga hasil spionase militer di perusahan LOMO Leningrad pada saat pecahnya Uni Soviet 1991. Pada awalnya Korea Selatan merintis pengembangan rudal panggul pada tahun 1995 oleh badan penelitian pertahanan pemerintah dengan anggaran 71 juta dollar dengan nama proyek KP-SAM Shingung. Pada tahun 2003 Korsel menerima pengiriman rudal panggul Igla dari Rusia sebagai bagian dari pembayaran hutang Rusia. Fase produksi rudal dimulai pada tahun 2004 dan penggelaran operasional dilakukan pada September 2005. AD Korea Selatan memesan  sebanyak dua ribu unit rudal. Sensor pengindra inframerah dipasok pabrik LOMO Rusia sedangkan sistem kendali, motor roket dan hulu ledak dikembangkan sendiri oleh Korsel sendiri.

Baca lebih lanjut

Kritik Sistem Pertahanan Udara Kapal Perang AL Indonesia

22 Apr
Rudal Aster 30 Sea Viper (www.army-technology.com)

Latihan Penembakan rudal yang dimiliki AL Indonesia telah digelar di Samudera Hindia meliputi 3 sistem pertahanan anti kapal dan 2 sistem pertahanan udara kapal. Sistem pertahanan anti kapal berupa misil lawas seri baru asal Perancis, Exocet MM-40 Block II, misil terbaru asal Rusia P-800 Yakhont, dan torpedo bawah air SUT. Rudal permukaan anti kapal Yakhont dinilai lompatan besar persenjataan strategis AL Indonesia dan bisa dianggap sebagai rudal jelajah ringan dengan daya jelajah hingga 300 km. Persejataan ini memberikan efek detterent yang signifikan di kawasan regional, setara dengan ongkos pengadaannya yang lebih dari 1 juta US dollar per unitnya. Melengkapi sistem pertahanan anti kapal jarak menengah Harpoon dan rudal standart korvet kelas Sigma berupa Exocet MM-40 Block II dengan daya jelajah 70 km dan persejataan kapal selam torpedo SUT yang berdaya jelajah hingga belasan km. Namun yang memprihatinkan dan AL Indonesia ketinggalan dari AL regional adalah sistem pertahanan udara kapal perang. Pada kapal perang selain meriam penangkis pesawat juga dilengkapi dengan rudal anti pesawat. Frigat AL Indonesia kelas Van Speijk dan Parchim ada yang bersenjata rudal Perancis Mistral simbad dan rudal Inggris Seacat serta SA N 5 Strela II, kelas Sigma bersenjata rudal Mistral tetral. Semuanya merupakan missil pertahanan anti serangan udara jarak pendek sekitar 5 km dan berpandu pasif infared. Platform Tetral lebih modern, konsol otomatis, daripada platform Simbad yang operasi manual berkecepatan supersonik. Sedangkan rudal Sea Cat lebih tua lagi, beroperasi manual terbatas pada obyek subsonik. Korvet kelas Parchim mewarisi platform Strela 2 yang beroperasi manual berkecepatan supersonik. Sebagian dari korvet kelas Parchim sudah dipasang platform Sea Cat, mungkin pengalihan dari korvet bekas AL Inggris kelas Tribal yang sudah tua/decomissioned.

Rudal Aspide (www.defesaglobal.wordpress.com)

Semua rudal anti pesawat jarak pendek tersebut cuma memiliki nilai taktis namun tidak mempunyai nilai strategis. Sementara negara-negara kawasan regional seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, kapal-kapal perangnya telah dilengkapi dengan senjata pertahanan udara kapal jarak menengah atau jarak jauh. Frigat Singapura memiliki persenjataan keluarga  MBDA Aster 15 rudal jarak menengah berdaya jangkau 30 km dan Aster 30 rudal jarak jauh hingga 120 km. Frigat Malaysia dan Thailand dengan rudal Selenia Italy yakni seri Aspide berdaya jangkau hingga 50 km. Frigat Thailand akan dipersenjatai juga dengan rudal Raytheon AS, ESSM II Sea Sparrow terbaru dengan daya jangkau 50-an km berkecepatan lebih dari 4 Mach. Akuisi senjata pertahanan udara kapal perang oleh negara-negara tersebut merupakan langkah strategis menjawab ancaman evolusi rudal anti kapal berbasis pesawat tempur yang berdaya tempuh makin jauh dan makin akurat. Dalam formasi tempur tidak ada pesawat tempur anti kapal yang mendekati kapal hingga 10 km. Kecuali di era 70-an hingga 80-an. Rudal anti pesawat jarak pendek hanya efektif menghadapai helikopter ASW yang kini jarang dipakai selain misi anti kapal selam. Bahkan helikopter khusus anti kapal selam pun tidak dimiliki oleh AL Indonesia.

Rudal RIM-162 Evolved Sea Sparrow Missile ESSM (www.9abc.net)
%d bloggers like this: