Arsip tag pabrik kelapa sawit

Sterilizer (Perebusan)

11 Mar

image

Proses pertama yang dilakukan di Pabrik Kelapa Sawit adalah proses perebusan. Proses ini sangat penting karena akan berpengaruh pada proses-proses selanjutnya. Proses perebusan mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut :

1.Untuk menurunkan kadar kandungan air dalam buah.

2.Untuk membantu melepaskan butir-butir buah dari tandannya.

3.Untuk menghidrolisa zat-zat lendir.

4.Untuk mematikan enzim-enzim yang berkemampuan memecah/mengurai minyak.

5.Untuk persiapan proses pengempaan dengan melunakkan buah dan melepaskan mesokarp dari nut.

6.Untuk mempersiapkan dalam proses pengolahan biji dengan membantu melepaskan kernel dari cangkang dan membantu cangkang agar mudah pecah.

7.Untuk mengkoagulasi unsur-unsur putih telur.

Pada umummnya terdapat 4 unit sterillizer dalam suatu pabrik kelapa sawit. Sterilizer ada yang tipe horizontal twin door, horizontal continues sterilizer, vertical sterilizer, oblique sterilizer, dengan tekanan kerja 1-3,2 bar. Pengontrolannya dilakukan secara elektropneumatik dan hidrolik dengan PLC (Progammable Logic Controlled).

Dalam perebusan dikenal tiga  system, yaitu single peak, doble peak dan triple peak, kecuali pada sistem continous steriulizer. Yang biasanya digunakan adalah triple peak, karena paling sempurna dengan tekanan puncak pertama 1,5-2,0 kg/cm2, puncak kedua 2,5 kg/cm2 dan puncak ketiga 3,2 kg/cm2. Uap yang digunakan adalah uap jenuh bekas turbin yang dilewatkan BPV yang diisi air sehingga uap yang dihasilkan tidak kering.

Loses yang terjadi di dalam proses perebusan adalah minyak yang terikut dalam kondensat. Standarnya kurang dari 1%. Biasanya penyebab losses minyak di atas standar adalah karena banyak buah yang busuk dan luka serta waktu perebusan yang terlalu lama. Langkah untuk menurunkan loses ini adalah dengan menyesuaikan waktu perebusan dengan kondisi buah yang direbus. Dalam pengoperasiannya ada beberapa prosedur yang harus diperhatikan :

a.Selalu diperiksa dan dipastikan saluran deaerasi dan kondensat tidak tersumbat.

b.Bagian dalam sterilizer dibersihkan dari brondolan setuap kali mulai proses.

c.Dipastikan interlock dapat berfungsi denga baik.

Perawatan yang perlu dilakukan pada sterilizer adalah sebagai berikut:

1.Checking dan penggantian packing pintu (door packing)

2.Pemeriksaan adanya kebocoran lasan dan pada pipi-pipa dan packing flange sambungan pipa.

3.Pemeriksaan dan pengencangan bolt dan nut pada sambungan pipa.

4.Pemeriksaan pressure gauge.

5.Pemeriksaan kondisi dalam sterilizer.

6.Pemeriksaan dan pembersihan strainer saluran kondensat,deaerasi, main inlet, exhaust dan auxilary dalam sterilizer.

7.Pemeriksaan dan pembersihan blow down chamber / blow off silencer.

8.Pemeriksaan dan pembersihan strainer box kondensat dan pipa, kolam/tanki kondensat.

Perkembangan teknologi sterilizer di pabrik kelapa sawit mengarah pada alternatif selain lori sebagai alat angkut. Tujuannya adalah menciptakan layout sistem yang lebih ringkas/praktis, efisiensi perawatan dan tenaga kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih bersih. Teknologi sterilizer selain media lori adalah CS (Continous Sterilizer), Vertikal Sterilizer, dan Oblique Sterilizer. Dimana inti peran dan fungsi sterilizer masih sama pada prinsipnya.

Rotary Brush Strainer : Lambat tapi Bisa Menyumbat

17 Des

Pagi ini mendapat laporan shaft rotary brush strainer dua unit yang beroperasi terkena kendala. Shaft kedua mesin tersebut patah serempak. Sesuatu yang begitu aneh dan asing. Sebab selama bertahun-tahun di pabrik pengolahan sawit baru pertama ini terjadi shaft rbs patah bahkan sekaligus dua. Usut punya analisis, menyalahkan alat adalah langkah terakhir. Shaft dengan diameter 16 milimeter tersebut terbuat dari bahan baja paduan yang tahan karat. Di tempat kerja sebelumnya pun sudah terbukti keandalannya. Paling banter masalah yang menimpa adalah shaft mengalami bengkok, defleksi sebagai akumulasi pengoperasian, fatique berputar di dalam fluida panas yang bertemperatur 95 derajat celcius. Bisa juga terjadi aus atau pengikisan pada ulir shaft akibat bongkar pasang atau abrasi oleh pasir yang terikut di dalam sludge. Analisis berikutnya adalah ada sesuatu yang mengganjal sehingga shaft tidak mampu menahan beban puntir hingga patah pada sisi yang paling lemah. Ikhwal tersebut dibuktikan dengan adanya banyak kotoran yang menyumpal di dalam mesin. Oleh karena itu faktor kebersihan sangat berpengaruh terhadap kesehatan mesin baik kebersihan luar maupun kebersihan dalam. Untuk mencegah kejadian semacam itu terjadi, pastikan pembilasan dengan air panas setiap empat jam sekali ketika proses produksi. Setiap hari harus ada unit mesin rbs yang dibongkar sikatnya buat dibersihkan kotorannya. Jika tidak sanggup ketiganya sekaligus, minimal satu unit bergantian tiap hari. Peran rbs dalam pengolahan sawit sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses produksi. Fungsinya adalah menyaring fiber halus yang masih terikut di dalam sludge. Jika fiber halus lolos dari rbs, sludge centrifuge akan sering tersumbat nozzle-nya. Bila perihal tersebut terjadi, frekuensi pembilasan rbs perlu ditambah dari empat jam sekali.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Penerimaan TBS (FFB Reception)

2 Agu

1. Jembatan Timbang

Jembatan timbang merupakan alat yang sangant vital dalam sebuah Pabrik Kelapa Sawit yang menjadi bagian terdepan dimana didapat data kuantitas masuknya raw material dan keluarnya produk yang dihasilkan. Fungsi dari jembatan timbang adalah untuk menimbang truk agar diketahui tonase TBS yang masuk ke pabrik dan tonase kernel, CPO, serta janjang kosong yang dibawa keluar pabrik. Dalam pengoperasiannya ada beberapa prosedur yang harus diperhatikan :

-Seluruh platform timbangan harus bersih dari segala kotoran dan pinggiran jembatan apakah ada kotoran yang mengganjal atau tidak setiap hari.

-Dipastikan posisi kendaraan yang ditimbang berada ditengah–tengah timbangan.

-Dipastikan pula mesin truk dimatikan pada saat penimbangan karena getaran mesin dapat mempengaruhi hasil penimbangan dan sopir harus turun.

-Security harus memeriksa muatan truk.

-Diteliti setiap hasil penimbangan dan khusus untuk kendaraan pengangkutan CPO dan kernel jika ada selisih antara kendaraan lebih dari 20 kg laporkan kepada pihak (manajemen) yang berwenang dan telusuri apa penyebab selisih tarra tersebut.

Untuk menjamin keakuratan timbangan maka setiap 3 bulan sekali dilakukan kalibrasi dan setahun sekali dilakukan tera ulang oleh jawatan metrology. Pada saat hujan alat timbangan dapat dimatikan agar tidak tersambar petir.

2. Grading TBS

Grading TBS adalah penentuan kualitas dari TBS yang masuk ke Pabrik Kelapa Sawit. Fungsi dari grading adalah untuk mengetahui kondisi buah yang akan diolah sehingga dapat diperkirakan kualitas hasil yang akan didapat, proses perebusan bagaimana yang akan dilakukan, dan menyortir buah yang diluar kriteria. Grading biasanya dilakukan di apron, tempat truk diparkir untuk menuang TBS ke dalam kompartemen loading ramp. Grading dilakukan oleh petugas grading dari staff Laboratorium, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1.         Areal loading ramp dibersihkan dari segala sampah-sampah setiap hari. Dan buanglah sampah pada tempat yang telah ditentukan.

2.         Brondolan dan janjangan ( TBS ) yang berceceran di lingkungan loading ramp dikutip dan dimasukkan ke dalam chute loading ramp.

3.  Jumlah truk TBS yang di-grading bervariasi sesuai ketentuan yang berlaku.

4.  Petugas grading menentukan secara acak  ± 100  janjang TBS contoh yang diturunkan dari truk dilantai apron, bisa juga grading total, tergantung ketentuan yang berlaku.

TBS yang telah selesai digrading dimasukkan kembali ke dalam kompartemen.

Kriteria grading telah ditentukan sebagai berikut :

Buah mentah : TBS yang membrondol kurang dari 10 brondolan merah alami.

Buah matang : TBS yang membrondol lebih dari 10 brondolan merah alami.

Buah busuk : TBS yang buah dalamnya ikut membrondol lebih dari 50%.

Tandan Kosong : TBS tanpa brondolan.

Tangkai Panjang : TBS dengan panjang tangkai lebih dari 5 cm dari pangkal tandan

Hasil dari rekap grading digunakan sebagai pembanding akan produk yang didapat, sebagai contoh bila rendemen CPO turun salah satu kemungkinannya adalah karena buah yang diolah banyak yang mentah, data ini diperoleh dari proses grading. Selain itu juga dapat digunakan sebagai feedback kepada kebun atau suplier tentang mutu buahnya.

 

3. Loading ramp

Loading ramp adalah tempat dimana TBS dituang oleh truk. Fungsi dari loading ramp adalah:

-Sebagai tempat penyimpanan TBS sementara

-Sebagai tempat untuk menyaring kotoran

-Sebagai tempat penuangan TBS ke dalam lori

-Untuk menjamin kontinuitas pengolahan dengan system FIFO.

Setiap loading ramp memiliki kompartemen dengan chute. Kompartemen ini dirancang memiliki dasar yang miring sehingga buah akan jatuh ke chute karena beratnya sendiri. Kapasitas total tiap loading ramp adalah bermacam-macam sesuai desain, ada yang 90 Ton atau lebih. Penyaringan kotoran dapat dilakukan dengan barisan tee bar di dasar kompartemen atau dengan cara melewatkan TBS pada saringan saat diturunkan dari truk. Setiap chute dilengkapi dengan pintu yang digerakkan secara hidrolik. Dalam pengoperasiannya ada beberapa prosedur yang harus diperhatikan :

1. Loading ramp atas dan bawah harus dibersihkan, termasuk saluran airnya dari sampah dan brondolan.

2. Diperiksa seluruh pintu, power pack, level oil hydraulic, hose, cylinder rod dan sebagainya, pastikan dalam  kondisi baik dan dapat beroperasi dengan baik. Tekanan kerja tidak  melebihi spesifikasi hydraulic power pack.

3. Pengisian dilakukan secara berurutan dari satu kompartment ke kompartment berikutnya agar FIFO sistem dapat diterapkan.

4. Kutip brondolan dan janjangan yang jatuh ke lantai dan segera masukkan ke lori.

5. Pada saat pengisian pastikan lori tepat diposisinya untuk menghindari brondolan dan TBS tumpah / jatuh ke lantai, tidak menunggu sampai proses berakhir.

6. Pindahkan segera lori yang berisi TBS ke jalur rail yang tepat sesuai dengan rebusan yang   akan

Loading Ramp

Loading Ramp (gambar: tiangsiang.com)

Karena setiap loading ramp terdapat 12 chute maka setiap kali pengisian dapat diisi 12 lori sekaligus tiap loading ramp. Dari 12 lori tersebut 10 lori dipindahkan ke jalur rel rebusan yang dituju dan disisakan 2 lori sebagai pendorong untuk masuk ke transfer carriage. Demikian pula pada saat memasukkan lori ke rebusan, memerlukan 4 buah lori sebagai pendorong sehingga setiap memasukkan 10 lori ke rebusan perlu disiapkan 14 di jalur rebusan.

4. Kapstan dan Winch

Kapstan dan winch adalah alat yang berfungsi untuk menarik dan mendorong lori keluar atau masuk transfer carriage dan keluar atau masuk rebusan. Kapstan terdiri dari motor listrik, kopling, gearbox serta bollard satu atau dua buah, untuk wich tidak ada bollard tetapi dilengkapi dengan penggulung wire rope. Dalam pengoperasiannya ada beberapa prosedur yang harus diperhatikan :

1. Bersihkan bollard capstan dan winch reel, dan pastikan dalam keadaan kering, hal ini untuk menghindari tali atau wire rope slip sewaktu digunakan, permukaan bollard atau reel harus dalam keadaan rata..

2. Capstan harus dioperasikan perlahan-lahan.

3. Dipastikan lori yang akan ditarik telah tercantol dengan baik.

4. Pastikan tidak ada orang yang melintas di depan lori.

5. Bila lori keluar dari rail, kendorkan tali atau wire rope dan posisikan kembali lori ke rail.

 

5. Lori.

Lori merupakan bogie yang dilengkapi wadah yang berlubang-lubang dan digunakan untuk memuat TBS ke tempat perebusan. Lori yang dipergunakan memiliki ukuran tertentu dengan kapasitas 3-10 ton. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasan lori adalah :

Pengisian lorimdilakukan secara optimal sesuai kapasitas..

Dudukan lori harus tepat di atas rail agar tidak terpeleset dan jatuh.

Gandengan lori harus baik dan benar agar berfungsi semestinya.

Kaitan pada penarik lori selalu diikatkan pada tempat yang telah ditentukan.

Periksa secara reguler roda bogie, jika ada lori yang rodanya rusak beri tanda dan singkirkan untuk perbaikan.

6. Railtrack

Berfungsi sebagai jalan untuk memindahkan lori Railtrack merupakan dua buah I-beam yang dibntangkan sejajar dengan jarak tetap, di atas bantalan yang dicor pada lantai.Hal-hal yang diperhatikan dalam pengopersiannya :

Seluruh rel harus rata tidak naik turun dan tidak bengkok.

Jarak antar rel harus tetap besarnya sepanjang jaringan rel.

Sepanjang jalur rel harus bersih dari sampah dan brodolan-brondolan buah.

Jembatan rebusan (cantilever) sewaktu digunakan harus duduk tepat pada tempatnya, dan kedudukannya tegak lurus pada rel, lubang bobot unutk jembatan harus selalu bersih.

 

7. Transfer Carriage

Transfer carriage berfungsi untuk memindahkan lori berisi TBS ke jalur rebusan. Tranfer carriage digerakkan secara elektrohidrolik. Terdapat 2 unit sehingga masih ada spare 1 unit jika salah satu mengalami kerusakan dan perbaikan. Dalam pengoperasiannya yang perlu diperhatikan adalah :

Kebersihan parit diperiksa, harus bebas dari sampah, brondolan dan genangan air.

Diperiksa dan dipastikan flexible cable dalan kondisi baik.

Diperiksa dan dipastikan penggulung kabel berfungsi baik dan tidak macet.

Diperiksa level oli dan apakah ada kebocoran oli di power pack dan saluran hidrolik.

Diperiksa dan dipastikan karet bumper berada di tempatnya.

Pemindahan lori dilakukan secara perlahan-lahan, setelah lancar baru cepat.

Lori baru dipindahkan bila rel transfer carriage dan jalur rel telah tersambung benar.

Bila transfer carriage tidak digunakan diparkir pada tempatnya.

Pengenalan Teknologi Pabrik Kelapa Sawit

2 Agu

Pabrik kelapa sawit merupakan salah satu bagian dari bisnis proses perkebunan kelapa sawit dengan produk akhirnya adalah CPO (Crude Palm Oil). Buah kelapa sawit dihasilkan di kebun, sedangkan untuk proses pengolahan buah kelapa sawit sampai dengan didapat CPO dilakukan oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Proses yang terjadi di PKS sebenarnya cukup sederhana yaitu memeras minyak yang terdapat dalam TBS (Tandan Buah Segar) kelapa sawit atau FFB (Fresh Fruit Bunch). Tetapi dalam pelaksanaannya memerlukan beberapa langkah dan proses yang panjang dan rumit untuk dapat dihasilkan CPO dengan mutu yang baik.

Pabrik Kelapa Sawit

Pabrik Kelapa Sawit (gambar: gopdc-ltd.com)

Stasiun-stasiun yang dilalui dalam pengolahan kelapa sawit adalah :

1.Stasiun Penerimaan TBS (FFB Reception)

2.Stasiun Perebusan (Sterilization)

3.Stasiun Penebahan (Threshing)

4.Stasiun Pengempaan (Pressing)

5.Stasiun Klarifikasi (Clarification)

6.Stasiun Pengolahan Biji (Kernel)

7.Stasiun Pengolahan Inti (Kernel Crushing Plant)

Stasiun-stasiun tersebut dalam pengoperasiannya dibantu oleh beberapa unit kerja dan bagian-bagian, yaitu :

1.Unit Pengolahan Air (Water Treatment)

2.Unit Penghasil Uap (Boiler) dan Pembangkit Tenaga (Power Generation)

3.Unit Pengolahan Limbah (Effluent Treatment)

4.Laboratorium

5.Maintenance dan Workshop

Dalam melaksanakan fungsinya PKS memiliki 3 tujuan yaitu menghasilkan produk dengan memperhatikan :

a.Kualitas, yaitu bagaimana dihasilkan CPO dengan mutu yang memenuhi standard yang telah ditentukan.

b.Kuantitas, yaitu bagaimana dihasilkan CPO dengan rendemen tinggi dan meminimalkan losses yang terjadi.

c.Cost, yaitu biaya produksi yang efektif dan efisien.

Untuk mencapai tujuannya maka perlu mendayagunakan seluruh sumber daya yang ada di pabrik yaitu tenaga kerja, mesin, bahan baku dan modal dengan semaksimal mungkin.

Bagan Pengolahan PKS (gambar: plotspalmoil.com)

Bagan Pengolahan PKS (gambar: plotspalmoil.com)

%d bloggers like this: