Arsip | Pertahanan RSS feed for this section

Tragedi MH17 dan Rudal Anti-pesawat

19 Jul

Betul-betul sial nasib maskapai penerbangan Malaysia Airlines. Dunia masih belum hilang rasa heran atas raibnya MH370 sejak 8 Maret 2014, kini disusul jatuhnya MH17 di wilayah Ukraina timur. Diduga kuat pesawat angkut komersial itu terkena misil anti-pesawat.
Ada dua pertanyaan yang muncul di benakku. Rudal apa yang menjatuhkannya dan kenapa MH17 berani melintasi wilayah konflik bersenjata dengan eskalasi besar seperti pergolakan di Ukraina timur. Konflik ini sudah tersebar luas di penjuru dunia yang melibatkan negara-negara besar. Dengan Logika normal pasti perencana rute dan operator akan menghindari wilayah tersebut karena ada potensi resiko berbahaya. Meskipun belum dinyatakan secara eksplisit oleh badan penerbangan sipil internasional (ICAO) sebagai daerah larangan terbang. Kondisi praktis di lapangan sudah mengindikasikan bahwa wilayah Ukraina timur merupakan wilayah berisiko tinggi bagi penerbangan. Konflik bersenjata di sana telah memberi bukti sebelumnya. Beberapa kali helikopter dan pesawat terbang militer Ukraina ditembak jatuh oleh pihak pemberontak. Bahkan menewaskan seorang jenderal yang berada di dalam pesawat angkut militer Ukraina tersebut. Di samping itu ICAO di bulan April mengeluarkan Notam yang berisi saran mengalihkan jalur alternatif, ada potensi risiko berbahaya jika melewati rute Ukraina timur. Padahal jalur tersebut merupakan jalur strategis yang bisa mengurangi jarak tempuh dari Asia Tenggara ke Eropa. Tentu rute tersebut sangat ekonomis dalam mengurangi biaya operasional bahan bakar jet. Tetapi tidak sebanding dengan resiko yang mungkin bakal diterima.
Adanya rudal jarak menengah dalam konflik bersenjata di Ukraina timur membuat situasi keamanan semakin kompleks. Dalam konflik bersenjata dunia, sangat jarang pihak pemberontak mendapatkan atau mengoperasikan batere rudal pertahanan udara jarak menengah. Paling banter rudal panggul atau MANPADS dengan jarak jangkau pendek kurang dari 7 km dengan keterbatasan visual operatornya. Dalam versi upgrade modern, ada versi yang didukung oleh radar jarak pendek diplatform jeep. Posisi terakhir MH17 di posisi ketinggian 33.000 kaki. Hal ini menunjukkan bahwa misil yang menjatuhkannya bukanlah misil jarak pendek semacam SA-7 Strella. Namun misil jarak menengah semacam Buk SA-11 atau bahkan misil jarak jauh seperti S-200 dam S-300. Pengoperasian sistem hanud jarak menengah maupun jarak jauh meniscayakan dukungan radar kompleks. Bisa terkoneksi dengan sistem radar lainnya yang me deteksi target di luar jangkauan radar sistem misil. Hal ini tentu memerlukan prosedur operasi dan teknis yang tidak sederhana. Tidak juga menihilkan kemungkinan pihak pemberontak memiliki atau mengoperasikan sistem misil seperti itu. Peristiwa ini tentu membuat konflik di Ukraina timur semakin rumit dan mengkawatirkan.

Shared from Google Keep

Pameran Kekuatan Surveillance Strategis dan MH370

29 Mar

Musibah raibnya pesawat penumpang Malaysia MH370 menunjukkan betapa pentingnya kemampuan surveilance jarak jauh dan teknologi penginderan jarak jauh (satelit). Berbagai negara berlomba menggelar kekuatan SAR mencari jejak pesawat terbang naas tersebut. Secara tidak langsung mereka juga menunjukkan kepada dunia internasional akan kedigdayaan teknologi surveilance dan penginderaan jarak jauh yang mereka miliki. Kemampuan tersebut tidak saja sangat berguna dalam posisi perang namun sangat bermanfaat dalam misi non perang. Seperti halnya pesawat angkut kelas berat yang tidak cuma berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan perlengkapan tempur. Namun sangat berperan dalam bantuan kemanusian seperti bencana alam untuk suplai logistik, medis, dan evakuasi dalam jumlah besar dan intensitas tinggi.

Demikian pula kemampuan surveilance dan penginderaan jarak jauh di samping berguna untuk pemetaan strategis dan peran pencegahan infiltasi permukaan dan bawah permukaan juga sangat berguna dalam misi SAR kemanusiaan di medan yang terpencil dan terisolir. Negara-negara besar terlihat sangat dominan dalam menggelar kemampuan mencari jejak MH370 di Samudra Hindia yang sangat jauh dan luas. Sangat kontradiktif bagi negara-negara Asia Tenggara yang terbatas kekuatan surveilance dan penginderaan jarak jauh. Untuk perburuan di lautan, Singapura hanya memiliki Fokker-50 MPA dengan daya jelajah 2 ribu kilometer. Indonesia dan Malaysia mempunyai armada CN-235 MPA dengan daya jelajah 4 ribu kilometer. Tentu saja tidak termasuk pesawat terbang taktis untuk peran surveilance jarak pendek seperti C-212 MPA dan N-22 Nomad. Tidak sepadan dengan pengerahan P-3 Orion Australia, P-8 Poseidon Amerika Serikat, Il-76 MPA Tiongkok, bahkan Tu-142 India yang sekarang juga memiliki armada P-8 Poseidon. Indonesia memang prospektif untuk ikut serta dengan Boing 737-200 Surveiller dengan catatan dilengkapi dengan piranti air refueling dan didukung  pesawat air refueling strategis semacam Airbus A330 MRT atau Boeing KC-135 Stratotanker. Singapura mempunyai armada KC-135 tetapi tidak memiliki armada pesawat surveillance strategis.

Negara-negara maju juga dengan cepat mengerahkan satelit pencitraan jauh dan observasi bumi sebagai dasar pergerakan pesawat surveilance dan kapal dalam mencari puing-puing MH730. Perancis, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Inggris menjadi yang terdepan dalam merilis citra obyek yang diduga serpihan pesawat yang raib tersebut. Bertolak belakang dengan perjuangan Indonesia yang sedang berusaha membuat satelit mikro sekaligus riset roket pengorbitnya. Meskipun sebenarnya sudah ada langkah maju dengan peluncuran satelit mikro ataupun TUBSat dengan roket India. Sejajar dengan Singapura dan Malaysia yang berada di tahap teknologi satelit mikro untuk remote-sensing. Sedikit lebih maju adalah Thailand yang mengoperasikan satelit observasi bumi Thaichote seberat 715 kg sejak Oktober 2008 dengan diorbitkan roket Rusia. Satelit Thaichote turut berperan serta dalam pencarian puing-puing MH370. Mencoba sejajar dengan kedigdayaan Tiongkok yang memiliki sejumlah satelit penginderaan jarak jauh dan observasi bumi peran militer seperti seri satelit Yaogan yang mengusung piranti elektro-optis dengan resolusi yang lebih tajam.

Dengan adanya kejadian genting MH370, semoga riset penginderaan jarak jauh Indonesia semakin didorong maju. Seiring dengan peningkatan kemampuan surveilance jarak jauh pesawat terbang dan unsur pendukungnya.

Legenda Hidup Senapan Kalashnikov Meninggal

27 Des
Mikhail kalashnikov

Mikhail Kalashnikov dan senapan AK-47 (Foto: RIA Novosti).

Pencipta senapan serbu yang paling banyak dipakai dunia, Mikhail Timoveyevich Kalashnikov, akhirnya meninggal dunia pada tanggal 23 Desember 2013 pada usia 94 tahun di rumah sakit Rusia. Kalashnikov sangat berjasa dalam mendesain senapan serbu AK-47 pada masa Perangg Dunia II. Senapan Kalashnikov menjadi senjata yang sangat populer karena keandalan dan ketangguhannya, diproduksi oleh puluhan negara dunia. Bersaing dengan senapan serbu populer asal AS (M-16) yang didesain oleh Eugene Stoner. Beliau lahir di Kurya Altai-Krai (10 November 1919), bekerja dan meninggal di kota Izhevsk di Udmurtia Siberia, 1300 km timur Moskow. Hidupnya sederhana meskipun seorang purnawirawan jenderal bintang dunia. Padahal senjata desainnya diproduksi lebih dari 100 juta unit oleh belahan dunia. Kalashnikov memang tidak pernah mematenkan desain senapan serbu tersebut. Bahkan beberapa bulan sebelum meninggal dunia, dia menghibahkan nama Kalashnikov kepada perusahaan Rusia Izmash yang selama ini memproduksi senapan serbu AK-47 dan variannya. Gaya hidupnya sangat bertolak belakang dengan sejawatnya pencipta desain M-16 Amerika Serikat, Eugene Stoner yang memegang lebih dari 100 paten. Ketika mereka bertemu pada tahun 1990 di Dulles International Airport Washington DC, Mikhail Kalashnikov menyampaikan bahwa Stoner di AS mampu menerbangkan sendiri pesawat terbang pribadi namun dirinya untuk membeli tiket penerbangan dari Izhevsk ke Moskow saja nyaris tidak mampu. Itulah sepotong profil Mikhail Kalashnikov, mantan prajurit Rusia yang terluka dalam pertempuran berat Perang Dunia II, pertempuran Bryansk 1941. Sebuah pertempuran yang kesohor dalam Operasi Barbarosa yang dilancarkan Jerman terhadap Uni Sovyet hingga puncaknya pada pertempuran Leningrad 1942. Eugene Stoner sendiri sudah meninggal mendahului Kalashnikov di tahun 1997 pada usia 74 tahun.

Daya Saing Industri Alutsista

27 Mei

Peningkatan kapasitas teknologi pertahanan tidak sekedar cukup dengan membeli perangkat keras karena memiliki anggaran yang besar, milyaran Dollar. Negara yang memboroskan diri ke anggaran pertahanan dengan sekedar membeli perangkat keras tidak akan bisa bertahanan lama dalam mengikuti perubahan tantangan zaman. Benar dia akan dengan cepat mendapatkan perangkat keras canggih dan menggetarkan dalam jumlah banyak dan singkat. Tapi itu hanya semu, sementara saja. Justru dengan adanya anggaran yang besar harusnya bisa berinvestasi untuk sektor penunjang teknologi pertahanan. Lembaga riset baik di badan pemerintahan maupun perguruan tinggi diberi kesempatan dan anggaran yang memadai. Demikian juga sektor swasta di bidang pertahanan lebih diperdayakan lagi. Tidak boleh dimonopolikan ke perusahaan BUMN, apalagi untuk komponen pendukung dan material yang non-lethal. Boleh kebijakan penjualan dan ekspor diatur oleh suatu badan pemerintah namun tidak boleh mematikan sektor swasta. Karena di negara maju, sektor industri pertahanan swasta terbukti jauh lebih efisien dan justru meringankan beban negara serta ikut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dengan collateral effect.
Produk pertahanan lokal sebaiknya mendapat prioritas memenuhi keperluan domestik. Apabila memang ada suatu perangkat keras pertahanan yang belum bisa diproduksi sendiri di dalam negeri maka boleh dibeli ke pihak asing namun harus bisa melibatkan industri dalam negeri. Oleh karena itu produk yang akan dibeli tidak boleh didatangkan bulat-bulat. Dibuatkan regulasi sehingga pemasok asing bersedia share component dan joint production. Untuk bisa ikut share component dan joint production, industri pertahanan baik swasta maupun BUMN harus memiliki skill dan penguasaan teknologi yang
Baca lebih lanjut

Main Battle Tank Indonesia, Tank Leopard 2 Jerman

28 Apr

image

Dalam taktik dan strategi peperangan modern, peran tank dalam memenangkan pertempuran sangat diandalkan. Dimulai dari pemberdayaan tank dalam Perang Dunia II oleh angkatan darat Jerman yang sangat efektif dalam perang reguler hingga perang kota saat ini. Pengalaman perang dan rekayasa teknik Jerman dalam menghasilkan tank sudah tidak diragukan lagi, bersaing dengan MBT populer dunia dari AS dan Rusia. Bahkan dalam banyak segi justru lebih unggul. Jadi tidak keliru, pemerintah Indonesia memilih tank Jerman sebagai tulang punggung armada tank AD dalam modernisasi senjata. Harga lebih murah dibandingkan M1A2 Abrams tapi kualitas sangat kompetitif.

Baca lebih lanjut

%d bloggers like this: