Brand Kopi “White Coffee”

10 Des

Siang tadi aku berkunjung ke sebuah toko swalayan di kota kecil di Kaltim. Setelah berkendara sepeda motor selama satu jam dari basecamp tempat kerja, melintasi sebuah jembatan gantung yang terbuat dari papan kayu ulin dengan penahan sling baja. Namun jembatan tersebut tengah direhab jadi tinggal 3-4 lembar papan saja melintas sepanjang beberapa puluh meter di atas sungai. Sebagai penikmat kopi tentu tak ketinggalan mencari renteng kopi di minimarket tersebut. Ada sesuatu yang baru tentang produk kopi, muncul brand yang bersaing di segmen White Coffee. Setahu penulis, white coffee ditenarkan oleh oleh kopi luwak white coffe produksi Semarang, baik secara above line maupun bottom line. Sebenarnya produk tersebut sudah meluncur bergerilya di pasaran bahkan sudah beredar di Kalteng (domisili penulis) di pasar basah (tradisional). Namun market education yang kurang dari pihak produsen, menyebabkan animo konsumen kopi kurang beranjak. Namun setelah muncul banyak iklan tentang white coffe kopi luwak, baru deh penulis paham maksudnya. Sebuah genre segmen pasar kopi baru yang tengah tercipta. Penulis mencoba citarasa kopi luwak white coffe di Semarang pada kantin sebuah rumah sakit. Citarasanya lembut dengan aroma yang khas. Terbayang jika ini adalah kopi luwak hasil sekresi luwak (musang) yang diberi makan buah kopi. Namun sayang, mungkin ini adalah pengalaman pribadi penulis belum tentu sama dengan konsumen kopi lainnya. Sehabis minum kopi tersebut, saat buang air kecil tercium aroma moka. Penulis lain waktu uji banding dengan kopi lainnya yang biasa dikonsumsi seperti torabika cappuccino, kapal api, dan lainnya, air seni normal. Tentu bagiku hal ini mengkawatirkan secara pribadi. Kini muncul dua produsen kopi lainnya mengisi segmen pasar white coffee yakni ABC dari Sidoarjo dan torabika kopiko dari Tangerang. Yang kopiko white coffe sudah aku sruput segelas. Sulit bedakan rasanya. Penulis tidak tahu mulai kapan abc dan kopiko terjun ke dalam segmen ini. Maklum penulis tidak memiliki akses televisi. Sekedar baca berita dari detiknews, tempo.co dan republika online tatkala senggang dari sebidang layar ponsel blackberry dengan sinyal edge yang timbul tenggelam sinyalnya. Tentu kopi luwak sebagai pionir segmen ini harus menyiapkan taktik dan strategi baru dalam menghadapi pesaing baru dari pemain kelas berat di sektor komoditas kopi instan. Belum tentu pionir akan bertahan paling depan tanpa adaptasi perubahan pangsa pasar dan perilaku konsumen. Friendster di sektor media sosial tidak sanggup menghadapi munculnya facebook. Demikian juga yahoo yang tertinggal dari sundulan google di sektor search engine dan online advertising. Namun langkah besar kopi luwak white coffee sudah mendekatkan eksklusivitas kopi luwak kepada konsumen yang lebih luas. Penulis masih ingat image “kopi luwak” sebagai waralaba yang hadir di pusat perbelanjaan mewah, cermin penikmat kopi dari kalangan atas, bersanding dengan starbuck amerika. Bagaimana pendapat anda.

Posted from WordPress for BlackBerry.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: