Rafale, Pesawat Tempur Andalan Perancis dan Prospeknya

7 Agu

Pesawat Tempur AL Perancis, Rafale M (www.asian-defence-tech.blogspot.com)

Pesawat tempur utama AL dan AU Perancis, Rafale, telah membuktikan kehandalannya dalam palagan Libya serta meraih battle proven cap. Tentu hal ini membantu Perancis memperbesar peluang pasar Rafale yang hingga kini lesu tanpa satu pun negara di luar Perancis yang bersedia membeli. Berbeda dengan pesaing dekatnya yang lahir beriringan, Eurofighter Typhoon. Di palagan Libya Rafale menunjukkan kemampuannya sebagai pesawat tempur omnirole dengan menjalankan beberapa misi sekaligus baik misi serangan darat maupun superioritas udara terhadap pasukan pemerintah Libya sekaligus patroli udara dalam rangka no fly zone di atas udara Libya. Pada 19 Maret 2011, Rafale melancarkan serangan darat di dekat Benghazi tatkala ibukota pemberontak tertekan artileri berat Tripoli. Rafale sukses menghancurkan sejumlah sasaran artileri berat tersebut. Pada tanggal 24 Maret 2011, Rafale juga berhasil menghancurkan pesawat jet tempur ringan di Misrata, Soko G-2A Galeb yang merupakan pesawat jet latih buatan eks-Yugoslavia dengan rudal AASM. Sehari sebelumnya Rafale juga melakukan serangan SEAD (Supressed Enemy Air Defense) terhadap lanud Misrata memakai rudal Scalp EG. Di sisi lain Eurofighter Typhoon yang dikerahkan RAF (AU Inggris) belum mampu beroperasi sendiri tanpa berpartner dengan pesawat lain. Pada 12 April 2011, sebuah Typhoon Inggris yang berpasangan dengan Tornado GR4 melancarkan serangan darat terhadap kendaraan lapis baja pemerintah Libya. Typhoon meluncurkan 2 bom cerdas GBU-16 Paveway II dengan sasaran dipindai oleh Tornado GR4 dengan laser targetting pod Litening III. Kasau Inggris berdalih kurangnya pilot Typhoon yang terlatih mengoperasikan pod Litening III.

Sejauh ini ada 3 varian Rafale yakni Rafale C dan Rafale M yang berkursi tunggal dan Rafale B yang berkursi ganda (tandem). Versi C dan B dioperasikan AU Perancis sedangkan versi M dioperasikan AL Perancis berbasis kapal induk. Dari awal desain memang Rafale langsung ditujukan untuk penggunaan pangkalan aju darat dan kapal induk yang masing-masing memiliki kesamaan (commonality) yang tinggi sehingga menghemat biaya produksi dan suku cadang. Berbeda dengan Eurofighter yang desain dasarnya menekankan fungsi operasional di landasan darat. Baru dibuat purwarupa operasional kapal induk untuk memenuhi permintaan tender militer India yang juga bersaing langsung dengan Rafale.

Interior Kokpit Rafale (www.naval-technology.com)

Rafale M memiliki struktur airframe dan perangkat roda pendarat yang diperkuat. Dilengkapi pengait kabel pendarat (arrestor hook) dan pengait ketapel roda depan untuk lepas landas. Rencana pembuatan Rafale N sebagai pesawat latih AL berkursi tandem dibatalkan demi penghematan anggaran. Selanjutnya pelatihan pilot AU dan AL Perancis disatukan menggunakan Rafale B. Namun pesawat Rafale B tidak cuma berfungsi sebagai pesawat latih saja karena bisa dikonfigurasi menjadi pesawat peran tempur penuh. AU Perancis merencanakan akuisi versi B akan mencakup 60 persen dari total Rafale AU. Mereka menarik pelajaran penting dari operasi Perang Teluk dan konflik semenanjung Balkan bahwa kopilot memainkan peran penting dalam misi-misi yang sangat berisiko.

Cikal bakal Rafale sama dengan cikal bakal Typhoon, berasal dari kebutuhan pengadaan pesawat tempur multirole baru yang mandiri dari AS dan mampu menanggapi ancaman di masa datang pada pertengahan dekade 1970-an dalam kondisi ancaman Perang Dingin antara NATO dengan Pakta Warsawa. Untuk menghemat biaya riset dan produksi, Perancis sepakat bekerja sama dengan empat negara lainnya yaitu Inggris, Jerman Barat, Spanyol, dan Italia. Namun akhirnya pada 1985 Perancis mundur dari kerjasama karena berselisih konsep pesawat. Perancis menginginkan desain pesawat tempur swing role berbobot 9 ton yang bisa dioperasikan dari kapal induk. Empat negaranya lainnya dipimpin Inggris memilih desain pesawat tempur yang lebih berat dari 10 ton dengan menekankan pada kemampuan terbang lebih jauh dan lebih tinggi serta mampu memuat senjata lebih banyak. Desain konsorsium Inggris, Jerman Barat, Spanyol, dan Italia melahirkan pesawat tempur Eurofighter Typhoon yang berbobot 11.150 kg. Desain Perancis kemudian melahirkan Rafale yang diproduksi oleh Dassault Aviation. Rafale versi C berbobot 9.500 kg, versi B berbobot 9.770 kg, dan versi M berobot 10.196 kg. Bersayap delta bermesin ganda serta memiliki sayap canard, Rafale terbang perdana pada 4 Juli 1986 dengan memakai mesin yang sama dengan F-18 Hornet. Menunggu kematangan mesin turbin jet Snecma M88 serta menjaga aspek keamanan ujicoba purwarupa. Mulai masuk jajaran AB Perancis sejak 4 Desember 2000. Profil Rafale merupakan pesawat bermesin ganda tapi kompak, konfigurasi sayap berbentuk delat dengan canard di depan, air intake di bawah samping fuselage, menjadikan Rafale sebagai pesawat tempur modern yang paling indah diabadikan fotografer. Menyingkirkan era F-16 namun tetap menampilkan Rafale yang sangat aerodinamis dan lincah bermanuver meski membawa persenjataan penuh berupa empat rudal udara MICA, dua rudal jelajah Scalp EG, dan 3 drop fuel tank. Dengan avionik yang canggih menjadikan Rafale sebagai pesawat tempur omnirole, lebih dari sekedar pesawat tempur multirole.

Keanggunan Fotografi Rafale (www.imageshack.us)

Namun untuk urusan pangsa pasar ekspor, Rafale kalah dengan pesaing dekatnya Eurofighter Typhoon, F-16, F/A-18 E/F Super Hornet bahkan masih kalah bersaing dengan kelas yang lebih berat F-15 Strike Eagle. Pada September 2007, tender Maroko menyingkirkan Rafale dan memilih membeli F-16 dari AS. Pada tahun 2011 pemerintahan baru Brasil memutuskan membeli 36 pesawat Super Hornet dari AS padahal pemerintahan sebelumnya lebih menyukai Rafale. Rafale kembali tersingkir oleh pesawat Strike Eagle dari AS dalam tender di Korsel dan Singapura. Rafale masih memiliki kans memenangkan tender 126 pesawat tempur India senilai hampir 10 milyar dollar. Seleksi tender terakhir menyisakan Rafale dengan Typhoon. Sebelumnya Typhoon telah memenangkan tender 72 pesawat tempur di Arab Saudi dan  15 pesawat tempur di Austria. Kans di India tampaknya cukup besar dibanding Typhoon karena India menginginkan pesawat tempur berbasis kapal induk kelas Vikrant. Rafale telah membuktikan kedigdayaannya dalam pertempuran Libya sebagai pesawat yang berbasis di kapal induk. Sedangkan Typhoon baru membuat purwarupa yang berbasis di kapal induk demi memenagkan tender India. Hambatan utama Rafale adalah keterkaitan antara kelas pesawat dengan harga. Sebagai pesawat kelas menengah dia menempati kelas multirole F-16 namun rentang harga yang sekitar 90 juta dollar mendekati harga pesawat yang lebih berat termasuk Typhoon dan Superhornet ataupun Strike Eagle dengan karakteristik yang relatif sama. Di sisi lain India juga sudah membuat order pesawat 45 Mig-29 K/KUB yang berbasis kapal induk dari Rusia. Sebanyak 11 unit telah diterima India, direncanakan menempati kapal induk Vikramaditya (eks Admiral Gorshkov). Mig-29K bisa dianggap sekelas Typhoon dengan bobot 11 ton. Termasuk tawaran offset pembelian, tampaknya peluang Rafale sangat besar mengalahkan Typhoon kali ini pada tender di India.

Referensi:
1.Combat Aircraft, Juni 2011
2.Angkasa, No.10 Juli 2011
3.Wikipedia

About these ads

Satu Tanggapan to “Rafale, Pesawat Tempur Andalan Perancis dan Prospeknya”

  1. resya 17 Oktober 2011 pada 6:11 PM #

    wow,, klo ino punya rafale negara tetangga dah gg brani lgi msuk wilayah udara indo tnpa izin,.
    ckckckckckckckck
    ndang beli sana indo rafale.nya,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: